Tumblelog by Soup.io
Newer posts are loading.
You are at the newest post.
Click here to check if anything new just came in.
taswanitamurah16859

Sebelum membaca inti dari tulisan ini, mungkin ada baiknya mengetahui sedikit latar belakang saya yang berhubungan dengan alasan saya menulis artikel ini. Saya seorang mahasiswa biasa di salah satu politeknik negeri di Surabaya. Bukan seorang aktivis mahasiswa yang tergabung dalam organisasi-organisasi kampus. Hanya seorang mahasiswa yang tidak me

toko tas

miliki banyak kegiatan di dalam kampus.

Selain menjadi seorang mahasiswa, saya merupakan seorang pekerja paruh waktu atau istilah kerennya adalah freelancer. Padahal istilah freelancer ini bisa juga diartikan dengan gelandangan (baca di KKBI arti gelandangan). Saya hanyalah seorang freelancer amatiran yang mendapatkan proyek dari teman-teman dekat. Jadi tidak banyak dicari orang. Mungkin itu sudah cukup untuk jadi landasan tulisan saya ini.

Beberapa waktu lalu, saya bertemu dengan seorang adik kelas semasa duduk di bangku putih abu-abu. Kami mengobrolkan banyak hal yang dialami selama 3 tahun ini. Ya, sudah 3 tahun ternyata kami tidak berkomunikasi.

Ketika kami asyik bercerita kegiatan masing-masing selama tiga tahun ini, tiba-tiba ada suara yang membuyarkan konsentrasi kami meski suara tersebut tidak terlalu keras. Setelah saya telusuri, ternyata suara berasal dari sebuah gadget canggih sebesar 10 inch yang dimilikinya.

Meski mencoba mengabaikan saya yakin bahwa keinginan untuk membuka notifikasi itu sangat besar mungkin karena rasa penasaran, sebenarnya ada notifikasi apa sih?

Singkat cerita, notifikasi tersebut berhasil memotong pembicaraan kami meski cuma sebentar, dimana dia melihat notifikasi apa yang baru saja masuk di gadgetnya dan memilih untuk mengabaikannya.

Dari situ saya merasa beruntung karena sudah tidak menggunakan smartphone lagi (baca: bosan dengan smartphone). Saya tidak harus terganggu dengan notifikasi-notifikasi yang kurang penting. Selama setahun menggunakan smartphone, tidak semua notifikasi yang saya dapatkan benar-benar harus dibaca saat itu juga.

Sebagai solusi mungkin dengan mematikan paket data. Bagi mereka yang sudah berlangganan paket data, untuk apa coba mematikan paket data? Kecuali apabila baterai sedang habis atau sedang berada pada perjalanan cukup jauh naik motor sehingga tidak menggunakan paket data atau yang sedang kehabisan kuota paket datanya. Tetapi bagi mereka yang sedang nongkrong bareng teman-teman, duduk bersantai sambil mengerjakan tugas. Apakah iya tidak akan mengaktifkan paket data apabila berlangganan? Saya percaya, bahwa sebagian besar bilang tidak, karena selama setahun menggunakan smartphone, saya melakukannya :D

Don't be the product, buy the product!

Schweinderl